Penggunaan
aktiva yang menimbulkan beban tetap disebut operating
leverage, sedangkan penggunaan dana dengan beban tetap disebut financial leverage.
Financial Leverage
financial leverage timbul
karena perusahaan dibelanjai dengan dana yang menimbulkan beban tetap, yaitu
berupa utang dengan beban tetapnya berupa bunga.Financial structure (struktur keuangan) dan capital structure (struktur modal).
1.
Financial Structure, menunjukkan
bagaimana perusahaan membelanjai aktivanya.
Financial Structure tampak pada neraca sebelah kredit, yang terdiri atas
utang lancar, utang jangka panjang dan modal.
2.
Capital Structure merupakan bagian dari
struktur keuangan yang hanya menyangkut pembelanjaan yang sifatnya permanen
atau jangka panjang.
Leverage factor, adalah
merupakan perbandingan antara nilai buku total utang (D) dengan total aktiva
(TA) atau perbandingan antara total utang dengan modal (E).
DAMPAK
FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP PROFITABILITAS
Penggunaan utang
dalam pembelanjaan investasi perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba atas modal yang dipergunakan. Untuk mengetahui
bagaimana pengaruh penggunaan utang terhadap ROE , maka keempat struktur
keuangan yang telah dikemukakan dievaluasi berdasarkan ketiga kondisi ekonomi
yang dihadapi oleh perusahaan. Keadaan ini terjadi karena pada kondisi ekonomi
yang memburuk pada umumnya suku bunga pinjaman sangat tinggi, sementara
penjualan dan laba perusahaan menurun. Hal ini mengakibatkan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan utang lebih kecil
daripada tingkat bunga yang harus dibayar perusahaan.
Jika perusahaan
terus menambah utang akan mengakibatkan suku bunga akan meningkat, disebabkan
risiko yang dihadapi kreditur juga naik. Sementara itu, peningkatan penjualan
pada kondisi ekonomi normal relative lebih kecil dibandingkan dengan pada
kondisi ekonomi baik, sehingga kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
rugi pemegang saham juga relative lebih kecil dibandingkan pada kondisi ekonomi
baik. Semakin banyak jumlah utang yang dipergunakan berarti resiko yang
dihadapi perusahaan semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hubungan antara leverage factor dengan variabilitas ROE yang diukur dengan range. Jika semakin tinggi leverage factor , maka range ROE-nya semakin besar, hal ini
berarti resiko keuangan perusahaan juga meningkat.
HUBUNGAN
FINANCIAL LEVERAGE DENGAN OPERATING
LEVERAGE.
Operating Leverage (OL)
Operating Leverage timbul
bila perusahaan dalam operasinya mempergunakan aktiva tetap. Penggunaan aktiva
tetap akan menimbulkan beban tetap berupa penyusutan. Perusahaan yang mempunyai
operating leverage yang tinggi, break event point (BEP) akan tercapai
pada tingkat penjualan yang relative tinggi. Besar lecilnya operating leverage diukur dengan degree of operating leverage (DOL).
Untuk lebih jelas
bagaimana pengaruh operating leverage terhadap
risiko bisnis, dapat dibandingkan dua perusahaan yaitu: perusahaan ALFA yang
bersifat pada karya atau DOL-nya rendah, dengan perusahaan BETA yang bersifat
padat modal atau DOL-nya tinggi, Hal ini menunjukkan perusahaan yang padat
modal lebih sensitive terhadap perubahan penjualan dibandingkan perusahaan yang
padat karya. Jika volume penjualan turun akibat krisis ekonomi menjadi lebih
kecil dibandingkan volume penjualan BEP, maka perusahaan yang padat modal akan
mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang padat
karya, dan sebaliknya.
Financial Leverage (FL)
Financial Leverage timbul
bila perusahaan dalam membelanjai kegiatan operasi dan investasi menggunakan
dana dengan beban tetap (utang). Financial
Leverage dapat mempengaruhi EAT atau net
income (NI), ROE dan EPS. Besar kecilnya financial leverage diukur dengan degree of financial leverage (DFL)
Combination Leverage (CL)
Combination Leverage merupakan
operating leverage dengan financial
leverage. Combination Leverage mengukur pengaruh perubahan penjualan
terhadap perubahan EAT atau NI. Besar kecilnya Combination Leverage diukur
dengan rumus sebagai berikut :
Faktor- factor yang mempengaruhi struktur
keuangan suatu perusahaan :
- · Tingkat pertumbuhan penjualan
- · Stabilitas penjualan
- · Karakteristik industry
- · Struktur aktiva
- · Sikap manajemen perusahaan
- · Sikap pemberi pinjaman
STRUKTUR MODAL DALAM
POLITIK
Teori struktur modal menjelaskan
bagaimana pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan, biaya modal dan
harga pasar saham. Adapun pendekatan yang sering dipergunakan dalam praktik
untuk mengevaluasi pengaruh leverage keuangan
adalah dengan menganalisis hubungan EBIT – EPS. Dengan kata lain analisis EBIT
- EPS mengevaluasi bagaimana pengaruh
penggunaan berbagai alternative sumber dana terhadap EPS pada jumlah EBIT
tertentu. Sebagai contoh, misalkan suatu perusahaan “CTC”, mempunyai modal Rp.
10 juta seluruhnya berupa saham biasa. Perusahaan sekarang ingin mengadakan
ekspansi yang membutuhkan dana Rp. 5 juta.
Alternatif pemenuhan kebutuhan dana
tersebut adalah:
- 1. Seluruhnya dibelanjai dengan saham biasa
- 2. Seluruhnya dibelanjai dengan utang (12%)
- 3. Seluruhnya dibelanjai dengan saham preferen (11%)
Berdasarkan hasil analisis EBIT –
EPS bahwa alternative pembelanjaan yang menghasilkan EPS paling besar adalah
alternative utang. Dengan demikian berarti ekspansi yang direncanakan sebaiknya
dibelanjai dengan utang, jika EBIT-nya sebesar Rp. 2,4 juta. Masalahnya adalah
situasi yang dihadapi oleh perusahaan bersifat tidak pasti. Oleh karena itu,
ada kemungkinan EBIT yang terjadi bisa lebih besar atau lebih kecil dari Rp.
2,4 juta. Seberapa besar perubahan EBIT alternative utang masih merupakan
alternative pembelanjaan.
TEORI STRUKTUR MODAL
Pengertian Struktur Modal
Struktur
modal berkaitan dengan pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur
dengan perbandingan utang jangka panjang dengan modal sendiri. Teori struktur
modal menjelaskan apakah kebijakan pembelanjaan jangka panjang dapat
memengaruhi nilai perusahaan, biaya modal perusahaan dan harga pasar saham
perusahaan.
Pendekatan laba bersih operasi
Pendekatan
ini mengasumsikan biaya modal perusahaan tetap pada berbagai tingkat leverage.
Pendekatan tradisional
Pendekatan
tradisional mengemukakan ada struktur modal operasi dan perusahaan dapat
meningkatkan nilai total perusahaan dengan mempergunakan jumlah utang (leverage
keuangan) tertentu. Dengan menggunakan utang yang semakin besar, pada mulanya
perusahaan dapat menurunkan biaya modalnya dan meningkatkan nilai perusahaan.
Walaupun pemegang saham meningkatkan tingkat kapitalisasi saham karena
meningkatnya resiko bagi pemegang saham, peningkatan tersebut tidak melebihi
manfaat yang diperoleh dari penggunaan utang yang biayanya lebih murah.
- Modigliani – Miller Postion
Modigliani
dan Miller (MM), mendukung hubungan antara struktur modal dengan biayamodal
sebagaimana yang dijelaskan berdasarkan pndekatan laba bersih operasi, yang
menyatakan bahwa struktur modal tidak memengaruhi biaya modal perusahaan dan
juga tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Menurut MM, nilai total perusahaan
tidak dipengaruhi struktur modal perusahaan, melainkan dipengaruhi oleh
investasi yang dilakukan dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.
Untuk mendukung pendapatnya
tersebut, MM mengemukakan beberapa asumsi, sebagai berikut :
a.
Pasar
modal sempurna.
b.
Expected
value dari distribusi probabilitas bagi semua investor sama.
c.
Perusahaan
dapat dikelompokkan dalam kelas resiko yang sama.
d.
Tidak
ada pajak pendapatan perusahaan.
Menurut MM, jika dua
perusahaan sama dalam segala aspek kecuali struktur modalnya, maka kedua
perusahaan tersebut harus mempunyai nilai total yang sama, jika tidak, akan
terjadi proses arbitrage (terjadi jika ada dua perusahaan yang identik dalam
segala aspek, kecuali struktur modalnya yang berbeda)
Pajak dan Struktur Modal
Apabila
pasar tidak sempurna, nilai perusahaan dan biaya modalnya dapat mengalami
perubahan karena terjadi perubahan struktur modal. Salah satu cirri pasar tidak
sempurna adalah adanya pajak.
- · Pajak pendapatan perusahaan
Manfaat
penggunaan utang bagi perusahaan kalau ada pajak adalah biaya bunga dapat
dipakai untuk mengurangi pajak. Konsekuensinya, jumlah pendapatan yang diterima
oleh kreditur dan pemegang saham pada perusahaan yang menggunakan utang lebih
besar dari pada perusahaan yang tidak menggunakan utang.
- · Pajak pendapatan perusahaan dan pajak pendapatan pribadi.
Pada
kenyataannya pajak pendapatan perusahaan dan pribadi selalu ada. Dengan adanya
pajak pendapatan pribadi dapat mengurangi manfaat pajak perusahaan sehubungan dengan
penggunaan utang. Jika pendapatan atas utang dan saham dikenakan tariff pajak
yang sama, total pendapatan yang diterima krditur dan pemegang saham pada
perusahaan yang menggunakan utang tetap lebih besar dibandingkan dengan
perusahaan yang tidak mnggunakan utang hanya saja nilainya berkurang.
Apabila yang
dipertimbangkan perusahaan adalah pendapatan setelah pajak bagi kreditur dan
pemegang saham, maka apakah perusahaan dibelanjai dengan utang atau saham,
tergantung pada nilai relatif dari tpd dan tc.
Jika tpd > tc,
maka perusahaan sebaiknya dibelanjai dengan saham.
Jika tpd < tc,
maka perusahaan sebaiknya dibelanjai dengan utang.
Jika tpd = tc, maka
perusahaan dibelanjai dengan uang atau sahaam tidak ada bedanya.
Pengaruh Biaya Kebangkrutan
Terhadap Tingkat Pengembalian Modal Sendiri
Pada
kenyataannya perusahaan menghadapi suatu kondisi yang tidak pasti, oleh karena
itu ada kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan, yang akan menimbulkan
biaya kebangkrutan. Adanya biaya kebangkrutan merupakan indikator
ketidaksempurnaan pasar, yang akan memengaruhi struktur modal perusahaan
Apabila
ada kemungkinan terjadi kebangkrutan dan biaya kebangkrutan cukup besar, maka
perusahaan yang menggunakan utang mungkin kurang menarik bagi investor.
Pengaruh Struktur Modal Terhadap
Nilai Perusahaan Jika Ada Pajak dan Biaya Kebangkrutan
Semakin
besar rasio utang jangka panjang terhadap modal sendiri semakin tinggi nilai
perusahaan karena terjadi penghematan pajak yang semakin besar. Namun tidak
berarti perusahaan dapat dengan bebas menggunakan utang sebanyak-banyaknya
tanpa memperhatikan terjadinya kesulitan keuangan atau bahkan kebangkrutan
perusahaan yang dapat timbul karena penggunaan utang yang berlebihan.
KEBIJAKAN DIVIDEN
KEBIJAKAN DIVIDEN DAN
PERMASALAHANNYA
Kebijakan dividen berhubungan
dengan penentuan besarnya dividend payout
ratio, yaitu besarnya persentase laba bersih setalah pajak yang dibagikan
sebgai dividen kepada pemegang saham. Keputusan dividen merupakan bagian dari
keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya berkaitan dengan pembelanjaan
intern perusahaan. Permasalahan dalam kebijakan dividen adalah apakah kebijakan
dividen dapat mempengaruhi nilai perusahaan atau harga pasar saham perusahaan ?
jika kebijakan dividen dapat mempengaruhi nilai perusahaan atau harga pasar
saham perusahaan, bagaimana kebijakan dividen yang optimal?
TEORI KEBIJAKAN
DIVIDEN
Terdapat tiga teori tentang
kebijakan dividen, yang menjelaskan bagaimana pengaruh besar kecilnya dividend payout ratio (DPR) terhadap
harga pasar saham. Adapun ketiga teori tersebut adalah:
Dividend Irrelevance Theory
Teori ini dikemukakan oleh Merton
dan Franco Modigliani (MM). Menurut, Dividend
Irrelevance Theory, kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham
perusahaan atau nilai perusahaan. Modigliani dan Miller berpendapat bahwa,
nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
pendapatan dan resiko bisnis, sedangkan bagaimana cara membagi arus pendapatan
menjadi dividend an laba ditahan tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
Asumsi yang dikemukakan oleh Modigliani dan Miller adalah :
- · Tidak ada pajak atas pendapatan perusahaan dan pendapatan pribadi
- · Tidak ada biaya emisi atau biaya transaksi saham
- · Leverage keuangan tidak mempunyai pengaruh terhadap biaya modal
- · Investor dan manajer memiliki informasi yang sama tentang prospek perusahaan
- · Pendistribusian pendapatan antara dividen dan laba ditahan tidak berpengaruh terhadap biaya modal sendiri.
- · Kebijakan penganggaran modal independen dengan kebijakan dividen.
Inti dari pendapat MM adalah,
bahwa pengaruh pembayaran dividen terhadap kemakmuran pemegang saham diofset
sepenuhnya oleh cara-cara pembelanjaan investasi yang dilakukan perusahaan. MM
mengemukakan nilai per lembar saham yang didiskonto setelah keputasan
pembelanjaan dan dividen sama dengan nilai pasar saham sembelum pembayaran
dividen. Dengan kata lain, penurunan harga pasar saham karena pembelanjaan
eksternal sama dengan kenaikan harga saham karena pembayaran dividen. Jadi
pemegang saham dikatakan indifferent antara
dividend an laba ditahan.
Anggap N adalah waktu jumlah
saham pada waktu 0, dan M adalah jumlah saham baru yang dijual pada waktu 1
dengan harga P1.
Jumlah saham baru yang diterbitkan untuk
membelanjai investasi.
MP = l – ( X – ND1 )
Keterangan :
l = Total investasi baru periode 1
X = Total laba perusahaan pada periode tersebut.
l = Total investasi baru periode 1
X = Total laba perusahaan pada periode tersebut.
Salah satu kebijakan
dividen yang mempunyai implikasi dividend
irrelevant adalah dividend payout as
a residual decision. Selama perusahaan mempunyai proyek investasi yang
menghasilkan return lebih tinggi dari
required return , perusahaan akan
mempengaruhi laba untuk membelanjai investasi tersebut. Dari keputusan
pembelanjaan, berarti pembayaran dividen kas bersifat pasif. Artinya, besar
kecilnya dividend payout akan
berfluktasi dari waktu ke waktu sesuai dengan fluktasi jumlah peluang investasi
yang tersedia bagi perusahaan.
Bird In- The Hand Theory
Teori ini dikemukakan
oleh Myron Gordon dan John Lintner. Berdasarkan Bird In- The Hand Theory , kebijakan dividen berpengaruh positif
terhadap harga pasar saham. Artinya jika dividen yang dibagikan perusahaan
semakin besar, maka harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi
dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena, pembagian dividen dapat mengurangi
ketidakpastian yang dihadapi investor.
Tax Preference Theory
Berdasarkan Tax Preference Theory , kebijakan
dividen mempunyai pengaruh negative terhadap harga pasar saham perusahaan.
Artinya, jika semakin besar jumlah dividen yang dibagikan suatu perusahaan
semakin rendah harga pasar saham perusahaan yang bersangkutan. Hal ini terjadi
jika ada perbedaan antara tariff pajak personal atas pendapatan dividend dan capital gain. Investor dapat menghindari
pajak dividen dengan cara sebagaimana yang dikemukakan oleh Miller dan Scholes.
Investor dapat menghindari pajak dividen dengan jalan melakukan suatu pinjaman
yang cukup untuk menimbulkan Rp. 1 beban
bunga untuk setiap Rp. 1 pendapatan dividen.
Investor akan terhindar
dari pembayaran pajak atas dividen dengan tariff pajak yang lebih tinggi dibandingkan
capital gain. Namun demikian karena
investor melakukan pinjaman, maka resiko yang dihadapi investor meningkat.
Factor-faktor yang perlu dipertimbangkan
manajemen dalam menentukan dividend
payout:
- · Dana yang dibutuhkan perusahaan
- · Likuiditas
- · Kemampuan perusahaan untuk meminjam
- · Nilai informasi dividen
- · Pengendalian perusahaan
- · Sifat pemegang saham
- · Pembatasan yang diatur dalam perjanjian pinjaman dengan pihak kreditur
- · Inflasi
BEBERAPA
ASPEK KEBIJAKAN DIVIDEN
Stabilitas Dividen
Perusahaan yang membayar
dividen stabil dari waktu ke waktu kemungkinan dinilai lebih baik daripada
perusahaan yang membayar dividen berfluktasi. Hal ini karena, perusahaan yang
membayar dividen stabil mencerminkan kondisi keuangan perusahaan tersebut juga
stabil dan sebaliknya, perusahaan dengan dividen tidak stabil mencerminkan
kondisi keuangan perusahaan yang kurang baik.
Kebijakan dividen tidak
stabil dilakukan melalui penetapan dividend
payout ratio yang tetap. Dengan demikian penerapan kebijakan dividen yang
stabil akan mengakibatkan dividend payout
ratio yang berfluktasi.
Target Payout Ratio
Sejumlah perusahaan
mengikuti kebijakan Target dividend
payout ratio jangka panjang. Hal ini akan mengakibatkan besarnya jumlah
dividen yang dibayarkan berfluktasi atau dividennya tidak stabil. Perusahaan
hanya akan meningkatkan dividend payout
ratio , jika pendapatan perusahaan meningkat dan perusahaan merasa mampu
untuk mempertahankan kenaikan pendapatan tersebut dalam jangka panjang.
Regular dan
Extra Dividend
Salah satu cara
perusahaan meningkatkan dividen kas adalah dengan memberikan extra dividend disamping regular dividend. Hal ini biasanya
dilakukan jika pendapatn perusahaan meningkat cukup besar tetapi sifatnya
sementara. Apabila tidak terjadi peningkatan pendapatan perusahaan, maka
dividen yang dibagikan hanya regular
dividend.
DIVIDEN
SAHAM (SAHAM DIVIDEND)
Dividen saham adalah
pembayaran dividen berupa saham kepada pemegang saham. Artinya, pembagian
dividen saham tidak akan merubah jumlah modal perusahaan, tetapi hanya terjadi
perubahan pada struktur modal saja. Dari sudut pandang pemegang saham, secara
teoritis pembagian dividen saham tidak memberikan manfaat kecuali tambahan
jumlah saham. Proporsi kepemilikan saham tidak berubah, karena jumlah dividen
saham yang diterima pemegang saham proporsional dengan jumlah saham yang telah
dimiliki pemegang saham, bahkan harga pasar saham akan turun jika faktor0faktor
yang lainnya tetap.
Perusahaan membagikan dividen saham dapat
disebabkan oleh salah satu dari alasan berikut, yaitu:
·
Perusahaan kesulitan likuiditas sehingga
perusahaan tidak mampu membayar dividen tunai.
·
Perusahaan melakukan investasi baru, dan
kas yang ada dipakai untuk membelanjai investasi tersebut.
PEMECAHAN
SAHAM (STOCK SPLITS)
Pemecahan saham
merupakan tindakan perusahaan untuk menambah jumlah saham yang beredar dengan
jalan mencegah satu saham menjadi dua saham atau lebih yang diikuti dengan
penurunan nilai nominal secara proporsional. Harga pasar saham perusahaan yang
terlalu tinggi akan mengakibatkan likuiditas saham akan semakin berkurang
karena hanya sedikit jumlah investor yang mampu membeli saham perusahaan.
Perusahaan kemudian melalukan pemecahan saham, yaitu satu saham dipecah menjadi
dua saham.
Reverse Split
Reverse Split merupakan kebalikan
dari pemecahan saham yaitu tindakan perusahaan untuk menggabungkan dua atau
lebih lembar saham menjadi satu. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan
harga pasar saham, apabia dipertimbangkan harga pasar saham sudah terlampau
rendah. Harga pasar saham yang terlalu rendah mengesankan kondisi perusahaan
yang kurang baik.
PEMBELIAN SAHAM KEMBALI (REPURCHASE
OF STOCK)
Pembelian
kembali saham merupakan bagian dari keputusan dividen. Keputusan ini diambil
apabila perusahaan mempunyai kelebihan kas sementara itu tidak ada peluang
investasi yang menguntungkan. Apabila tidak ada pajak biaya transaksi, kedua
alternative tersebut secara teoritis tidak ada bedanya bagi pemegang saham.
Dengan pembelian saham, maka jumlah saham yang beredar akan berkurang sehingga
akan meningkatkan pendapatan per tahun dan pada akhirnya akan mendorong
terjadinya peningkatan harga pasar saham. Secara teoritis capital gain yang diperoleh dari pembelian saham kembali sama
dengan dividen yang dibayarkan apabila tidak ada pembelian saham.
Capital Gain yang
diterima pemegang saham sama dengan harga pasar saham setelah pembelian kembali
dikurang dengan harga pasar saham sebelum pembelian kembali saham yang beredar.
Apabila pemegang saham indifferent antara
dividen dan capital gain, berarti
nilai saham tidak dipengaruhi oleh cara bagaimana perusahaan mendistribusikan
dana kepada pemegang saham. Hal ini dapat terjadi, misalnya ada perbedaan
tariff pajak antara dividen dan capital
gain . Dengan demikian nilai perusahaan dapat dipengaruhi oleh cara
bagaimana perusahaan mendistribusikan dananya.
Manfaat
pembelian saham kembali adlaah jumlah saham yang berkurang sehingga EPS dan
diveden per saham meningkat, dengan asumsi dividen
payout ratio tetap. Apabila P / E ratio
tetap, maka harga pasar saham juga diharapkan meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Sudana, I Made.2011. Manajemen Keuangan Teori dan Praktik. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar